Ia mengatakan pengukuhan delapan guru besar tersebut juga akan menjadi tambahan energi bagi Universitas Jember yang akan bertransformasi menjadi PTN-Berbadan Hukum.
Seusai dikukuhkan oleh Ketua Senat dan Rektor Universitas Jember, tradisi para guru besar menyampaikan orasi ilmiah.
Baca Juga:
Anwar Ibrahim Tegaskan Netralitas Malaysia sebagai Ketua ASEAN 2025 dalam Konflik Kamboja–Thailand
Guru besar yang merupakan satu-satunya dari bidang ilmu Hubungan Internasional di Unej, Prof. Abubakar Eby Hara dalam orasi politiknya menjelaskan kondisi dunia internasional saat ini yang masih belum lepas dari konflik dan peperangan.
Mulai dari perang Rusia versus Ukraina hingga yang terbaru, agresi Israel ke Palestina. Sepertinya adagium bersiaplah berperang jika ingin berdamai menemukan pembenaran.
Menurut lulusan Australian National University itu, sudah saatnya paradigma ilmu Hubungan Internasional berubah, tidak hanya berinduk dari pengalaman dan teori dunia barat atau belahan bumi utara saja, karena negara-negara di belahan bumi selatan termasuk Indonesia juga memiliki konsep bagaimana membina hubungan antarbangsa atau hubungan internasional.
Baca Juga:
Filipina Dorong Finalisasi Kode Etik Laut China Selatan Saat Pimpin ASEAN 2026
"Pengalaman dan peradaban di belahan bumi selatan atau Global South seperti peradaban India, China, Islam dan sebagainya dapat menjadi contoh membangun paradigma baru hubungan internasional," katanya.
Ia menjelaskan dalam konteks pengalaman Indonesia, inisiatif, keikutsertaan serta semangat di Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok bisa menjadi acuan kerja sama di tingkat dunia.
"Sementara di tingkat regional maka kiprah ASEAN bisa menjadi contoh mengingat Kawasan Asia Tenggara relatif lebih damai dibandingkan kawasan lainnya," ujarnya.