Diakui Gatot, kerusakan tanaman ini juga disebabkan air kiriman dari wilayah pegunungan.
"Setiap hujan, air dari pegunungan membawa lumpur, kerikil bahkan banyak material. Seperti tunggak pepohonan," ungkap Gatot.
Baca Juga:
Pangdam I/BB Kunker Kewilayah Brigif TP 37/HS, TNI Mendukung Pembangunan dan Keamanan di wilayah Kabupaten Karo
Debit air yang tinggi dari pegunungan dengan berbagai material ini disebabkan karena kerusakan hutan.
Akibatnya air dari pegunungan tidak ada yang menahan.
Air langsung meluncur ke bawah dengan menghanyutkan material apa saja sepanjang alirannya.
Baca Juga:
Lamhot Sinaga Soroti Perlindungan Pelaku Kreatif Usai Kasus Amsal Sitepu Viral
Air ini kemudian masuk ke sistem drainase, lalu masuk ke lahan pertanian.
Padahal seharusnya kelebihan air di lahan pertanian dibuang ke saluran pembuangan atau drainase.
"Jadi ini kebalik, dari sungai malah masuk ke lahan pertanian. Setelah sungai surut baru air di sawah mulai terbuang," tutur Gatot.