Diakui Gatot, kerusakan tanaman ini juga disebabkan air kiriman dari wilayah pegunungan.
"Setiap hujan, air dari pegunungan membawa lumpur, kerikil bahkan banyak material. Seperti tunggak pepohonan," ungkap Gatot.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Debit air yang tinggi dari pegunungan dengan berbagai material ini disebabkan karena kerusakan hutan.
Akibatnya air dari pegunungan tidak ada yang menahan.
Air langsung meluncur ke bawah dengan menghanyutkan material apa saja sepanjang alirannya.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
Air ini kemudian masuk ke sistem drainase, lalu masuk ke lahan pertanian.
Padahal seharusnya kelebihan air di lahan pertanian dibuang ke saluran pembuangan atau drainase.
"Jadi ini kebalik, dari sungai malah masuk ke lahan pertanian. Setelah sungai surut baru air di sawah mulai terbuang," tutur Gatot.