Tapi kini, malah bisa karena biasa, ia pun mulai merasakan nyaman dan sudah tak takut lagi.
Musayana mengaku, ia dan warga sekitar kerap beraktivitas di sekitar rel kereta api.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Mulai dari berdagang, bermain, nongkrong, hingga bepergian atau keluar masuk rumah sekali pun.
Meski begitu, ia menyatakan hal tersebut kian mendebarkan ketika ada masinis yang dianggap kejam.
Menurutnya, ada masinis tertentu yang justru menambah kecepatan laju kereta untuk menakuti para pedagang, pengendara, dan warga sekitar yang berada di sekitaran rel kereta api.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
"Wes terbiasa kok, lek pas onok sopir sing jahat malah onok sing dibanterno (Kalau pas ada masinis yang jahat malah dikencengin keretanya), kalau mau mepe (menjemur) dan lain sebagainya ya bebas. Kalau siang begini banyak yang jemur dan biar cepat garing (kering) semua," ujarnya.
Musayana mengakui memang caranya mencari nafkah di lokasi tersebut berbahaya dan salah. Namun, ia mengaku tak memiliki pilihan lain.
"Awalnya ya takut, tapi lama-lama terbiasa. Saya jualan di sini enggak ada sewa, cuma bayar sampah Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per hari, kita menyebutnya paman. Kalau akses sebenernya masuknya nggak ribet kok, kan ya ada jalan, tapi cuma buat motor," tuturnya, lalu tersenyum.