Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf mengatakan pemanfaatan bandara tersebut juga diharapkan dapat mengurangi beban operasional Asrama Haji Surabaya serta kepadatan di Bandara Internasional Juanda yang selama ini menjadi embarkasi utama jamaah haji asal Jawa Timur.
Menurut dia, Jawa Timur pada musim haji 2026 memberangkatkan sebanyak 116 kelompok terbang (kloter), sehingga aktivitas di Asrama Haji Surabaya berlangsung hampir tanpa henti selama proses pemberangkatan maupun pemulangan jamaah.
Baca Juga:
Tahun Depan Tol RI Tambah Panjang Lagi 308,7 Km, Bakal Tembus Yogya & Kediri
Tingginya intensitas pelayanan bahkan berdampak pada kondisi petugas, salah satunya Kepala UPT Asrama Haji Surabaya yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit karena padatnya aktivitas selama operasional haji berlangsung.
Gus Irfan, sapaan akrabnya menegaskan penambahan embarkasi haji harus mengedepankan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi pelayanan bagi jamaah.
"Kesiapan sarana prasarana, SDM, regulasi, hingga simulasi operasional menjadi hal penting sebelum embarkasi baru mulai dioperasikan," kata dia.
Baca Juga:
Pemkot Kediri Libatkan Pendamping PKH untuk Awasi Penyaluran Bansos Triwulan I 2025
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menambahkan Embarkasi Bandara Dhoho diproyeksikan melayani sekitar 10.548 calon haji yang berasal dari 15 kabupaten/kota di Jatim, yakni Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Blitar, Kota Blitar.
Selain itu juga Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Bojonegoro.
"Bandara Dhoho ini sudah lama kami persiapkan untuk memperkuat layanan penyelenggaraan ibadah haji sekaligus memberikan kemudahan bagi jamaah, khususnya dari wilayah Mataraman. Kami berharap proses keberangkatan maupun kepulangan jamaah akan semakin efektif dan nyaman," kata Gubernur Jatim.