Sebab, ada kepala dan kaki sapi yang terlihat menjijikkan ketika terinfeksi virus tersebut.
"Ada kepala atau kaki sapi yang terlihat banyak nanah dan lepuh-lepuhnya. Itu aman dan tidak membahayakan, tapi terlihat menjijikkan. Kalau dianggap menjijikkan ya tinggalkan (Jangan dikonsumsi), tapi perkara menjijikkan atau tidak itu kan tergantung persepsi," papar alumnus The University of Edinburgh, Inggris itu.
Baca Juga:
Gelar Razia,Satres PPA dan PPO Polres Tanah Karo Angkut 18 Orang Pria dan Wanita dari Penginapan.
Dia menambahkan, konsep itu juga dipakai saat memakan jeroan hewan, termasuk sapi.
Jika dianggap aman, tidak menjijikkan, dan dianggap memberi manfaat, maka boleh dikonsumsi.
"Kalau di negara barat memang tidak mengonsumsi jeroan karena dianggap banyak mudharatnya (Banyak kerugian jika dikonsumsi), tapi berbeda dengan Indonesia yang konsumsi protein masyarakatnya masih sedikit, jadi ya boleh dimakan. Tapi kalau jeroannya dianggap menjijikkan ya tinggalkan," pungkasnya. [non]