WahanaNews-Madura | Suku Madura yang menduduki peringkat ketiga dengan populasi terbanyak di Indonesia setelah Jawa dan Sunda itu, identitas dirinya kini makin tidak dikenali karena cenderung memilih alternatif "eskapistik " (lari) dalam interaksi sosialnya di perantauan.
Artinya, mereka sendiri menolak atau "melucuti" ciri atau karakteristik etnik yang melekat pada diri mereka.
Baca Juga:
Di Bawah Bayangan Konflik, Suasana Natal di Kota Kelahiran Yesus Berselimut Kemuraman
Karakteristik orang Madura yang dibentuk oleh kondisi geografis dan topografis Pulau Madura pada dasarnya lekat dengan budaya masyarakat hidraulis (air).
Dan akibat kondisi lahan yang tandus tersebut maka orang Madura lebih banyak menggantungkan hidup pada laut sehingga mereka pun berpola kehidupan bahari yang penuh tantangan.
Inilah yang kemudian melahirkan perilaku sosial yang bercirikan keberanian tinggi, menjunjung tinggi martabat dan harga diri, berjiwa keras, dan ulet dalam hidup.
Baca Juga:
Menteri PANRB Terbitkan Permen Terbaru Terkait Pedoman Konflik Kepentingan
Tak mengherankan jika dalam sikap dan perilaku sosial mereka itu tumbuh harga diri yang kadang-kadang berlebihan dan mengundang munculnya konflik.
Oleh karena itu, tindak kekerasan seolah-olah juga lekat dengan pribadi orang Madura.
Suku Madura memiliki tradisi unik yang perlu dilestarikan. Apa saja itu, berikut ulasan lengkapnya: