Sehingga sebagian besar dari mereka tetap bertahan memilih tidak pulang dan menginap di areal halaman pendopo dan sekitarnya dengan menggelar tikar.
Sementara puluhan mobil pikap dan colt station yang mereka bawa, dibiarkan diparkir di pinggir jalan depan pendopo.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Koordinator lapangan, Tosan, kepada Surya mengaku tidak puas dengan keputusan bupati.
Padahal perwakilan sudah dua kali berdialog menyampaikan alasan keberatan dan penolakan pilkades digelar di bulan puasa, yang disertai rasionalisasinya berikut kajian akademiknya.
Tetapi, sepertinya bupati mengenyampingkan aspirasi warga.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
“Tuntutan kami tidak muluk-muluk. Kami hanya menghendaki pilkades serentak di Pamekasan ini tidak digelar di bulan puasa dan capaian vaksinasi masyarakat Pamekasan sesuai target. Atas keputusan ini, kami berencana melayangkan gugatan ke pengadilan,” ujar Tosan.
Seperti diberitakan, sekitar 1.000 warga Pamekasan, terdiri atas aktivis, masyarakat, tokoh masyarakat dan sejumlah bakal calon kepala desa (bacakades), unjuk rasa ke kantor Pemkab Pamekasan, Jl Kabupataen, Pamekasan, menolak pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak, Kamis (20/1/2022). [rda]