JATIM.WAHANANEWS.CO, Surabaya - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mendorong inflasi tahunan (year-on-year/yoy) di Jawa Timur mencapai 3,36 persen pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,34 persen.
"Inflasi secara tahunan Jatim sebesar 3,36 persen terjadi pada Juni 2026, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,52 pada Juni 2025 menjadi 112,17 pada Juni 2026," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim Herum Fajarwati di Surabaya, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga:
Harga Pertamax Melonjak, Purbaya Sebut Efek ke Inflasi Relatif Minim
Herum mengatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku mulai 10 Juni mengalami inflasi sebesar 7,31 persen dan menyumbang inflasi secara keseluruhan mencapai 0,17 persen.
Selain kenaikan BBM nonsubsidi, inflasi tinggi di Jawa Timur juga didukung oleh masa libur sekolah yang mendorong peningkatan mobilitas masyarakat untuk berlibur maupun mengunjungi keluarga.
Peningkatan permintaan terhadap penerbangan domestik menyebabkan harga tiket pesawat cenderung mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca Juga:
Forkopimda dan Akademisi Jambi Perkuat Kolaborasi Penanggulangan Karhutla, Kapolda Tekankan Pencegahan dan Penegakan Hukum
Kemudian, kenaikan harga pada beberapa komoditas turut berkontribusi terhadap tingginya inflasi Jatim seperti harga bawang merah, beras, bawang putih, dan daging sapi yang dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan di beberapa daerah, penyesuaian harga di tingkat produsen, serta meningkatnya biaya distribusi.
Dengan terjadinya inflasi pada Juni maka inflasi tahun kalender yaitu Juni 2026 terhadap Desember 2025 adalah sebesar 1,74 persen.
Dari 11 kabupaten/kota di Jawa Timur keseluruhannya mengalami inflasi dengan tertinggi dialami Surabaya sebesar 0,46 persen dan terendah dialami Sumenep 0,01 persen.
Sementara daerah lain yaitu Malang 0,43 persen, Madiun 0,37 persen, Bojonegoro 0,21 persen, Gresik 0,19 persen, Probolinggo 0,18 persen, Banyuwangi 0,14 persen, Kediri 0,12 persen, Jember 0,11 persen, dan Tulungagung 0,04 persen.
[Redaktur: Amanda Zubehor]